Senin, 29 Februari 2016

Indonesia dan Budayanya yang Terancam


Setiap negara pasti memiliki caranya sendiri untuk merangkak menjadi besar, tak terkecuali Indonesia. Contoh saja Jepang, yang terpuruk karena Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh US tahun 1945, pertanyaan pertama yang dilontarkan pmimpin tertinggi Jepang, Kaisar Hirohito saat itu bukanlah berapa kerugian material yang dialami, namun berapa banyak guru yang masih tersisa. Itu adalah cara Jepang menyelamatkan negaranya sekaligus membuat negaranya besar dengan ilmu pengetahuan yang sangat maju seperti sekarang ini. Berbeda lagi dengan yang dilakukan Amerika, ketika terjadi The Great Depression pada tahun 1930-an yang menyebabkan krisi ekonomi besar-besaran, yang akhirnya Presiden Franklin D. Roosevelt mencanangkan The New Deal, yaitu program reformasi sosial dan ekonomi sebagai usaha penuntasan kemiskinan dan akhirnya membuat negaranya menjadi negara superpower karena ekonomi dan politik Amerika yang maju sampai sekarang. Dan mungkin Indonesia dengan segala usahanya melawan penjajah sampai tahun 1945 yang membuatnya merdeka hingga sekarang. Namun, sudah cukupkah dengan Indonesia memukul mundur penjajah di tahun itu dan membuat bangsa ini hidup damai sampai sekarang?
Salah satu kekhawatiran Khusni Muttaqin yang ia tuangkan dalam buku online-nya yang berjudul ‘Catatan Bangsa yang Aneh’ mengatakan “Bangsa ini adalah sebuah bangsa besar, namun sayangnya namanya belum sebesar yang diharapkan. Masih banyak kekurangan di berbagai tempat. Bahkan jati diri bangsa pun mulai hilang. Padahal bangsa-bangsa besar yang ada saat ini tumbuh dengan jati dirinya.”. Budaya bisa digambarkan sebagai jati diri bangsa Indonesia yang jika hilang maka hilang juga jati diri bangsa ini. Seperti halnya teknologi yang lekat akan Jepang, Negara Superpower dengan ekonomi dan politiknya yang besar yang melekat pada Amerika, dll merupakan beberapa contoh kebesaran yang mereka pertahankan untuk tidak hilang. Indonesia saat ini, dengan beribu kebudayaannya yang tidak terhitung namun lemah akan dukungan, sangat mungkin diambil alih oleh bangsa lain. Tak heran terjadi kasus dimana salah satu budaya Indonesia yaitu lagu mama sayange dan tari Reog Ponorogo yang sempat heboh beberapa tahun silam dan masih banyak lagi. Hal ini  bukan tanpa alasan, karena jika ini terjadi kemungkinan besar karena di Indonesia sendiri sudah jarang dilestarikan, ditambah lagi masyarakatnya yang lebih tertarik mengikuti budaya luar yang sedang trend daripada harus repot-repot mempertahankan budaya sendiri.
Sekarang tinggal bagaimana cara Indonesia ingin membesarkan dirinya, karena hidup damai saja tidak cukup dengan melihat persaingan saat ini. Indonesia hanya butuh melirik hal menonjol apa yang bisa ditawarkan kepada dunia. Sebenarnya, negara ini sangat potensial untuk menjadi sejajar dengan negara- negara besar, hanya saja  masyarakat Indonesia kebanyakan belum memahami potensi yang dimiliki oleh Indonesia dan mungkin sedikit darinya dipahamkan akan potensi tersebut. Padahal seperti yang telah digambarkan bahwa tanah air ini memiliki beribu kebudayaan yang sangat menarik dan tidak dimiliki oleh negara manapun, Kebudayaan yang beragam ini jangan sampai hilang begitu saja.  Oleh karena itu, sangat penting menyadarkan dan mengajarkan arti penting jati diri sebuah bangsa. Karena jati diri sebuah bangsa dilihat dari kebudayaan Indonesia sebagai bentuk usaha menanamkan kecintaan dan kebanggaan akan bangsa sendiri dan pada akhirnya anak-anak Indonesia akan sadar untuk mempertahankan budaya yang sudah ada dan melestarikannya.

@sucifebry

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISLAM SEBAGAI TEOLOGI PEMBEBASAN

Oleh : Suci Febriyani Beberapa ratus tahun yang lalu, ketika Islam datang melalui Nabi Muhammad saw membawa perubahan besar terhad...