Setiap negara pasti memiliki caranya sendiri untuk
merangkak menjadi besar, tak terkecuali Indonesia. Contoh saja Jepang, yang
terpuruk karena Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh US tahun 1945,
pertanyaan pertama yang dilontarkan pmimpin tertinggi Jepang, Kaisar Hirohito saat
itu bukanlah berapa kerugian material yang dialami, namun berapa banyak guru
yang masih tersisa. Itu adalah cara Jepang menyelamatkan negaranya sekaligus
membuat negaranya besar dengan ilmu pengetahuan yang sangat maju seperti
sekarang ini. Berbeda lagi dengan yang dilakukan Amerika, ketika terjadi The
Great Depression pada tahun 1930-an yang menyebabkan krisi ekonomi besar-besaran,
yang akhirnya Presiden
Franklin D.
Roosevelt mencanangkan The New Deal, yaitu program
reformasi sosial dan ekonomi sebagai usaha penuntasan kemiskinan dan akhirnya
membuat negaranya menjadi negara superpower karena ekonomi dan politik Amerika
yang maju sampai sekarang. Dan mungkin Indonesia dengan segala usahanya melawan
penjajah sampai tahun 1945 yang membuatnya merdeka hingga sekarang. Namun,
sudah cukupkah dengan Indonesia memukul mundur penjajah di tahun itu dan
membuat bangsa ini hidup damai sampai sekarang?
Salah satu kekhawatiran Khusni Muttaqin yang ia tuangkan dalam
buku online-nya yang berjudul ‘Catatan Bangsa yang Aneh’ mengatakan “Bangsa ini adalah sebuah bangsa besar,
namun sayangnya namanya belum sebesar yang diharapkan. Masih
banyak kekurangan di berbagai tempat. Bahkan jati diri bangsa pun mulai hilang.
Padahal bangsa-bangsa besar yang ada saat ini tumbuh dengan jati dirinya.”. Budaya bisa digambarkan
sebagai jati diri bangsa Indonesia yang jika hilang maka hilang juga jati diri
bangsa ini. Seperti halnya teknologi yang lekat akan Jepang, Negara Superpower dengan
ekonomi dan politiknya yang besar yang melekat pada Amerika, dll merupakan
beberapa contoh kebesaran yang mereka pertahankan untuk tidak hilang. Indonesia
saat ini, dengan beribu kebudayaannya yang tidak terhitung namun lemah akan
dukungan, sangat mungkin diambil alih oleh bangsa lain. Tak heran terjadi kasus
dimana salah satu budaya Indonesia yaitu lagu mama sayange dan tari Reog
Ponorogo yang sempat heboh beberapa tahun silam dan masih banyak lagi. Hal
ini bukan tanpa alasan, karena jika ini
terjadi kemungkinan besar karena di Indonesia sendiri sudah jarang dilestarikan,
ditambah lagi masyarakatnya yang lebih tertarik mengikuti budaya luar yang
sedang trend daripada harus repot-repot mempertahankan budaya sendiri.
Sekarang tinggal bagaimana cara Indonesia ingin
membesarkan dirinya, karena hidup damai saja tidak cukup dengan melihat
persaingan saat ini. Indonesia hanya butuh melirik hal menonjol apa yang bisa
ditawarkan kepada dunia. Sebenarnya, negara ini sangat potensial untuk menjadi
sejajar dengan negara- negara besar, hanya saja
masyarakat
Indonesia kebanyakan belum memahami potensi yang dimiliki oleh Indonesia dan
mungkin sedikit darinya dipahamkan akan potensi tersebut. Padahal seperti yang telah digambarkan bahwa tanah air
ini memiliki beribu kebudayaan yang sangat menarik dan tidak dimiliki oleh
negara manapun, Kebudayaan yang beragam ini jangan sampai hilang begitu saja. Oleh karena itu, sangat penting menyadarkan
dan mengajarkan arti penting jati diri sebuah bangsa. Karena jati diri sebuah
bangsa dilihat dari kebudayaan Indonesia sebagai bentuk usaha menanamkan
kecintaan dan kebanggaan akan bangsa sendiri dan pada akhirnya anak-anak
Indonesia akan sadar untuk mempertahankan budaya yang sudah ada dan
melestarikannya.
@sucifebry
@sucifebry
Tidak ada komentar:
Posting Komentar